“Udah deh, tutup aja akunnya, biar utangnya ilang sekalian.” Kalimat kayak gini sering banget muncul di kepala orang yang lagi pusing mikirin cicilan menumpuk. Logikanya kelihatan masuk akal, kalau akun nggak ada, ya kewajiban ikut hilang. Tapi sayangnya, dunia finansial nggak sesederhana itu.
Anggapan ini justru salah satu mitos yang paling sering bikin orang kejebak masalah baru. Daripada nebak-nebak sendiri dan akhirnya malah runyam, mending kita bedah satu-satu soal close akun Kredivo ini, apa benar bisa jadi jalan pintas buat lepas dari utang, atau justru sebaliknya.
Mitos yang Bikin Banyak Orang Salah Langkah
Anggapan bahwa menutup akun otomatis menghapus utang itu sebenarnya logika yang kebalik. Coba pikir gini, kalau kamu punya tagihan listrik yang nunggak, terus kamu minta pemutusan langganan, apa tagihannya ikut hangus begitu saja? Jelas nggak. Yang ada malah biaya pemutusan jadi tambahan baru di atas tunggakan lama.
Prinsipnya sama persis di sistem kredit manapun, termasuk Kredivo. Status akun dan kewajiban pembayaran itu dua hal yang berjalan terpisah. Akun bisa saja dinonaktifkan secara administratif, tapi data tagihan tetap tercatat di sistem mereka sampai benar-benar dilunasi. Jadi kalau niat awalnya pengen “kabur” dari utang lewat jalur penutupan akun, sayangnya itu jalan buntu.
Justru Begini yang Terjadi Kalau Nekat Close Akun Padahal Masih Ada Tunggakan
Faktanya, pengajuan close akun Kredivo nggak akan diproses sama sekali kalau masih ada kewajiban yang menggantung. Tim mereka bakal cek dulu status pembayaran sebelum menyetujui penutupan. Jadi anggapan bisa “lolos” dari kewajiban dengan cara ini sebenarnya nggak realistis sejak awal.
Yang lebih runyam lagi, kalau tagihan dibiarkan menumpuk tanpa pembayaran, dampaknya bukan cuma denda yang terus jalan, tapi juga rekam jejak kreditmu di SLIK OJK bisa kena catatan negatif. Efeknya jangka panjang banget, mulai dari susah ajukan KPR, layanan kredit atau pinjaman lain di kemudian hari. Jadi alih-alih beres, masalahnya malah bisa merembet ke urusan finansial yang lebih besar.
Kenapa “Lunas” dan “Tutup Akun” Itu Dua Hal yang Berbeda
Supaya lebih kebayang, anggap saja status lunas itu kayak kunci, sementara tutup akun itu pintu yang baru bisa dibuka kalau kuncinya udah dipegang. Tanpa kunci itu di tangan, pintunya nggak akan bisa digerakkan sama sekali, seberapa pun kerasnya kamu dorong.
Begitu juga di Kredivo. Status lunas artinya seluruh cicilan, biaya admin, sampai denda kalau ada, sudah dibayar tuntas tanpa sisa. Baru setelah itu, proses penutupan akun bisa dijalankan. Dua hal ini memang saling berkaitan, tapi urutannya jelas, lunasi dulu baru bisa ajukan penutupan, bukan sebaliknya.
Langkah yang Benar Kalau Memang Mau Berhenti Pakai
Kalau memang sudah bulat tekad untuk berhenti pakai Kredivo, langkah paling masuk akal adalah pastikan dulu seluruh kewajiban beres tanpa tunggakan sepeser pun. Setelah itu, siapkan e-KTP buat verifikasi identitas, baru hubungi Customer Service resmi lewat telepon di 0804-1-573348 atau email ke [email protected].
Proses verifikasi biasanya berjalan sekitar tiga hari kerja sejak pengajuan masuk. Selama menunggu, hindari login ke akun supaya nggak mengganggu proses yang sedang berjalan di sistem mereka. Cara ini memang butuh sedikit waktu dibanding asumsi instan “tutup aja langsung beres”, tapi inilah satu-satunya jalur yang benar-benar aman dan resmi.
Daripada Buru-Buru Tutup, Mungkin yang Perlu Dibenahi Cuma Cara Pakainya
Sebelum benar-benar memutuskan close akun Kredivo, ada baiknya direnungkan dulu, apa masalahnya memang di produknya, atau justru di pola pemakaian yang kurang terkontrol. Soalnya Kredivo PayLater sendiri sebenarnya punya struktur biaya yang transparan sejak awal, mulai dari opsi 0% Bunga & Admin untuk tenor satu bulan, sampai pilihan tenor panjang hingga 24 bulan, yang bisa disesuaikan dengan kemampuan bayar.
Kalau dipakai dengan kontrol yang lebih disiplin, layanan macam ini bisa jadi alat bantu arus kas yang berguna, bukan beban yang terus menghantui di tanggal tua.
Jadi sebelum ambil keputusan akhir, coba dulu evaluasi kebiasaan transaksinya. Bisa jadi yang perlu diubah bukan keberadaan akunnya, tapi cara kamu mengelola limit dan tenor dari awal.