Proses Kognitif Pada Konseling Individu

May10By Sunawan in Konseling individu

Konseling individu menuntut konselor buat melakukan kinerja kognitif selama menerima keterangan dari konseli. Ketidak-efektifan kinerja kognitif konselor selama proses konseling berdampak merugikan terhadap proses konseling, antara lain:Pemahaman empati yang tidak akurat. Empati menuntut konselor buat sanggup memahami kerangka acuan internal (internal frame of references) secara objektif & komprehensif. Ketiadaan proses kognitif yang sempurna menciptakan pemahaman yg objektif & komprehensif menjadi sulit tercapai.Respon attending, yakni pelacakan pesan lisan (ekspresi tracking) yang tidak runtut atau melompat-melompat. Ketika konseli mengutarakan suatu pesan, maka pendalaman berikutnya sang konselor diharapkan tidak jauh menurut topik pesan tersebut. Proses kognitif yg tidak efektif menjadikan lisan tracking sulit dilaksanakan.Fokus konseling pada lingkungan atau situasi eksternal (berdasarkan luar diri) konseli. Selama proses konseling, konselor diharapkan senantiasa memfokus (memperhatikan) syarat internal dari dinamika psikologis konseli, contohnya persepsi konseli tentang fenomena yang dialaminya, penilaian konseli mengenai kondisi yg dihadapi, pandangan pribadi mengenai suatu keadaan, dan seterusnya. Proses kognitif yang nir tepat mendorong konselor mendalami situasi eksternal, contohnya kapan suatu peristiwa dialami konseli, pada mana peristiwa insiden tersebut, bagaimana tanggapan orang pada kurang lebih konseli atas insiden tersebut, & lain-lain. Hal ini sangat mungkin terjadi mengingat memfokus dalam kondisi eksternal membutuhkan proses kognitif yg nir terlalu kompleks dibandingkan dengan berusaha memahami dinamika psikologis dari kondisi kerangka acuan internal.

Saat ketiga dampak pada atas terjadi, maka konseling yg mempunyai nilai donasi bagi konseli nir akan terwujud. Oleh karenanya, apa saja proses kognitif yang terjadi ketika konselor menangkap pesan dari konseli?

Setidaknya terdapat empat proses kognitif yg perlu dilakukan konselor yang terjadi secara siklusitas. Berikut ini bentuk proses kognitif tadi.Menangkap pesan dari ungkapan konseli. Di tahap ini konselor dituntut buat sanggup mendapat secara tepat, seksama dan komprehensif akan pesan-pesan lisan dan non-mulut yg disampaikan konseli. Sangat diharapkan dalam proses ini konselor nir melupakan satu atau lebih pesan yang disampaikan konseli. Oleh karena itu, bila pesan konseli terlalu panjang maka konselor dapat menggunakan teknik komunikasi penyimpulan (summary) bagian, parafrase, ataupun teknik lain yg relevan. Jika konselor merasa tidak terlalu konfiden pada memahami pesan yang disampaikan konseli, maka konselor dapat memakai teknik komunikasi penjelasan (clarrification) atau teknik lain yang relevan.Menginterpretasi pesan konseli berdasarkan pendekatan konseling yg diaplikasikan. Teknik Konseling Individu Sebagaimana diketahui bahwa aplikasi konseling dibutuhkan berdasarkan pada suatu pendekatan konseling, baik satu pendekatan tertentu ataupun eklektik atau integratif. Apapun pendekatannya, konselor dalam tahapan ini dibutuhkan sanggup mengaplikasikan konsep menurut pendekatan konseling buat tahu dinamika psikologis yang terjadi dalam kerangka acuan internalnya. Penginterpretasian pesan konseli menurut perspektif pendekatan tertentu mendorong konselor buat senantiasi memahami konseli menurut sudut pandang internal konseli, bukannya kondisi atau situasi eksternal yg telah dibahas sebelumnya. Di proses inilah, konselor yg memakai pendekatan Person Centered, contohnya, akan melihat & memahami menggunakan cara yang berbeda dinamika psikologis konseli dibandingkan dengan konselor yang menggunakan pendekatan Reality Therapy. Di termin ini, konselor jua dituntut buat bisa mengintegrasikan antar pesan konseli sehingga sebagai pola yang bermakna sebagaimana dilihat dari perspektif pendekatan konseling tertentu.Merancang arah pembicaraan berikutnya. Pemahaman konselor akan syarat internal konseli yg dipandu sang pendekatan tertentu diperlukan memberikan nilai implikatif bagi konselor pada mengorientasikan arah pembicaraan konseling berikutnya. Arah pembicaraan ini tentunya relevan menggunakan topik pembicaraan konseli sebelumnya (ekspresi tracking) & terpandu sinkron dengan koridor pendekatan konseling yg diaplikasikan.Menentukan teknik komunikasi konseling yg relevan. Setelah dipengaruhi arah pembicaraan konseling berikutnya, konselor dibutuhkan dapat menentukan teknik komunikasi konseling yang tepat. Pemilihan ini penting karena esensinya teknik komunikasi konseling diarahkan untuk menjaga netralitas ujaran konselor. Ketidaktepatan teknik komunikasi konseling yang diterapkan konselor berresiko terhadap gagalnya proses konseling mengingat inti menurut proses konseling merupakan komunikasi.

Dari penerangan kognitif tersebut dapat ditarik pemahaman bahwa setidaknya terdapat dua hal yang mendasari konseling individu, yakni (1) teknik komunikasi konseling, & (2) pendekatan konseling. Di sisi lain, berdasarkan gambaran ini bisa dianalisis beberapa hambatan yang acapkali menyebabkan konseling tidak efektif.Mind skills, berkaitan dengan motif dan aneka macam ujaran eksklusif (self-talk) yang menghipnotis kinerja kognitif. Saat konselor mendengarkan informasi menurut pesan konseli, maka sebenarnya konselor juga melakukan proses self-talk pada pikirannya. Isi self talk yg terkait mind skills sanggup jadi menguntungkan maupun merugikan. Pada konselor pemula, tak jarang kali ujaran dalam pikiran mereka berkaitan dengan tuntutan untuk segera mencarikan solusi atas hambatan yg dialami konseli, menuntut buat memberikan respon atas ungkapan konseli secepatnya, melarang buat melakukan kesalahan, & lain-lain. Self-talk semacam ini menciptakan konselor sibuk menggunakan dirinya-sendiri, dan melupakan diri buat memfokus pada liputan yang diberikan konseli. Resiko lebih jauh dari konselor yang terhayut dalam mind skills yg nir tepat adalah terjadinya counter-transference pada konselor yang tidak disadarinya.Kemampuan menangkap warta berdasarkan ungkapan mulut & non-lisan konseli. Di samping dikarenakan faktor mind skills sebagaimana dijelaskan di atas, kemampuan menangkap berita jua ditentukan oleh faktor inteligensi & jumlah utama-pokok warta yang wajibdiproses konselor (cognitive load). Oleh karenanya, konselor diminta buat bisa mengorganisir berita yg diperoleh menurut konseli ke dalam pola-pola yang bermakna. Kebermaknaan pola kabar yg ditangkap ini, keliru satunya, diadaptasi dengan pendekatan konseling yang diaplikasikan. Sebagai contoh, konselor menggunakan pendekatan Person Centered akan terbantu buat mengorganisir keterangan berdasarkan konseli dari pola inkongruensinya sehingga menghasilkan sesuatu yg dikeluhkan pada proses konseling.Tingkat pemahaman pendekatan konseling. Konselor, agar dapat menjalankan konseling secara efektif, dituntut buat menguasai pendekatan konseling yang diaplikasikan pada konseling secara komprehensif & mendalam. Pemahaman ini nir relatif hanya dalam level menghafal atau mengenali, melainkan dalam level analisis. Dengan demikian konselor sanggup tahu konseli perspektif yg diterapkannya dalam konseling.

Sebagai penutup, gambaran ini dimaksudkan buat memperjelas kiprah pendekatan konseling dan keterampilan komunikasi konseling pada konseling individu. Pengalaman praktik, pemugaran motif pada konseling & self-talk, kemauan buat mendalami konsep pendekatan konseling, dan pencerahan buat memperhatikan etika dalam konseling diharapkan untuk menaikkan kualitas konseling yang selama ini dicermati sebelah mata oleh poly kalangan. Semoga berguna!

Sunawan, Ph.D. adalah seseorang tenaga pengajar pada Jurusan Bimbingan Konseling FIP Universitas Negeri Semarang. Saat ini beliau berfokus pada gosip-berita mengenai belajar, motivasi, konseling individual, dan statistik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *